Senin, 02 Maret 2015

Pikiran Negatif = MUSUH TERBESARMU!

"Setiap bunga di masa depan adalah benih di saat ini dan setiap hasil pada esok hari adalah pemikiran hari ini."-Aristoteles-
"Siapa musuh terbesarmu?" tanya seorang guru kepada muridnya suatu hari di tengah-tengah jam pelajaran.
"Itu Bu si A. Dia suka ngejailin saya." jawab si murid kemudian.
"Siapa musuhmu yang paling besar di duna ini, bukan di kelasmu?"
"Iya si A, Bu. Dia ngejailin saya di mana saja. di kelas, di jalan, di rumah, di taman bermain, di tempat les. pokoknya si A!" si murid agak jengkel kenapa gurunya menanyakan hal yang mirip.
"Selain si A, siapa musuh bebuyutanmu?"
"Bu guru ini bagaimana sih. ya si A. Pokoknya dia itu musuh saya bu. Saya jengkel sama dia. Saya merasa tidak punya permasalahan khusus dengan dia tapi dia selalu mengancam saya dengan berbagai cara. Karena dia, hidup saya jadi hancur berantakan."
"lalu siapakah si A yang kamu maksud?"
Si murid tidak langsung menjawab. Walau pun sudah menjadi rahasia umum bahwa Gege adalah si A yang di maksud Dio. Hal ini karena Dio sudah kehabisan akal untuk menjawab pertanyaan gurunya nanti. Apa alasan yang tepat untuk mengatakan hal yang tidak masuk akal secara fisik ini? pikirnya.
"siapa Dio?" tegas guru menanyakan hal yang terdengar menakutkan untuk Dio itu.
"G... G... Ge-ge, Bu." kali ini Dio pasrah.
"Ibu sudah tahu, nak..." Sang Guru menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Lalu melanjutkan kalimatnya.
"Sebagai guru bimbingan konseling kalian ibu tahu betul apa yang terjadi pada diri kalian. Dio, maukah kau meminta maaf kepada Gege?"
Seisi ruangan kelas menunjukkan ekspresi melongo. Bagaimana tidak? Dio adalah orang yang baik dan tidak pernah menjelek-jelekkan orang lain yang derajatnya lebih rendah dibanding dia dan keluarganya termasuk tidak pernah mengolok-olok Gege yang hanya seorang putradari keluarga yang tidak banyak pilihan.
"Lho bukankah saya tidak bersalah Bu?" sanggah Dio.
"Lakukan saja dulu, nak. Ibu ingin memberikan pemahaman padamu dan teman-temanmu hari ini. Kita tidak punya sisa waktu yang banyak. Jelas Sang Guru berdiplomatis.
Singkat cerita ketika Dio meminta maaf pada Gege, Gege yang dicap sebagai Preman Sekolahan itu dengan tak terduga meneteskan airmata dan memeluk Dio.
"Maafin aku , Yo. Aku sudah banyak salah sama kamu. Aku selalu berfikir bahwa anak orang punya seperti kamu selalu egois dan maunya menang sendiri. Aku iri denganmu. Kau punya banyak fasilitas di rumahmu tidak seperti aku. Aku takut kau memandang rendah diriku ini. Maafkan aku yang justru menyakitimu. Makanya saat kau melirikku sedikit saja, aku langsung sakit hati, Yo. Maafkan aku, Yo."
Lagi-lagi seisi kelas dibuat tercengang dan melongo, namun kali ini bertambah resep baru yaitu terharu.
Usai adegan dramatis itu sang guru lalu memberikan tepuk tangan yang diikuti serentak oleh seluruh murid di kelas itu. Siang yang cerah, sang Guru berkata dalam hati.


Apa yang kita dapatkan dari cerita di atas? ya, sesuai judul saya dalam artikel pertama saya ini, musuh terbesar kita adalah musuh yang ada pada diri kita sendiri, bukan orang lain. Seorang Soekarno juga pernah bilang yang intinya begini, "generasi bangsa ini harus lebih berjuang keras. karena bukan penjajah lagi musuh kita, tapi musuh kita adalah bangsa kita sendiri". wah sorry banget ya sobat Thinkers, kata-katanya amburadul. tapi ya intinya begitulah. :-D
Secara tidak langsung, Soekarno telah berkata bahwa musuh terbesar kita adalah yang ada dalam diri kita sendiri. Dan hal itu adalah pikiran negatif. Kenapa pikiran negatif? Karena dalam buku Quutut Tafkiir-nya Dr. Ibrahim El-Fiky, alias yang dalam saduran bahasa Indonesianya berjudul "Terapi Positive Thinking" :-} disebutkan bahwa pikiran negatif akan menganalisis dan berpikir secara negatif terhadap peristiwa masa lalu yang menjadikan seseorang merasa menderita, mengkhawatirkan masa depan, menjalani hidupnya saat ini dengan perasaan dan keyakinan negatif, serta menjadikan setiap peristiwa dalam hidupnya sebagai rangkaian penderitaan.
Pertanyaannya adalah, kenapa orang mau berpikiran negatif padahal hanya akan membuat kebahagiaan lenyap dari kehidupannya? sebutlah si Gege yang dari tadi memperhatikan saya sejak awal saya menulis ini tadi :-) , seandainya dia tidak berfikiran senegatif itu kepada Dio, atau seandainya sobat Thinkers yang berhidung mancung ke dalam tidak mempermasalahkannya dalam menghadapi dunia ini, tentu Gege tidak akan melakukan hal-hal yang merugikan Dio atau tentu sobat Thinkers tidak akan dibungkus hatinya oleh rasa iri dan dengki.padahal, iri dan dengki adalah sesuatu yang membuat hidup kita sangaaaaaatt menderita.
saya sendiri pernah mengalami hal ini. Suatu hari di saat saya sedang badmood dengan orang rumah saya mendapati banyak teman saya mengerubungi sahabat dekat saya. Di hari-hari biasanya, hal itu tampak wajar-wajar saja. Namun di hari itu entah mengapa saya merasa iri padanya. Ah, jelas saja dia disukai banyak orang, keluarganya kan lembut dan peduli penuh kepadanya! gerutu saya sambil menyeka air hujan eh air mata saya. Sampai hari ini, halitu terkadang masihterus menghantuisaya. Namun bagaimana pun yang lebih baik kita lakukan adalah berfikir positif. Paradigma saya mulai berubah setelah saya merenungkan gerutuan saya tersebut. Kan ga mungkin banget kalau keluarga saya tidak mempedulikan saya, kalau tidak kenapa saya tidak diaborsi atau dibunuh saja sewaktu saya dilahirkan?
Makanya begitu ada pikiran negatif yang menetes (ceileh) di kepala saya, as soon as possible saya langsung meralatnya dengan pikiran positif. So, let's be postive sobat Thinkers !
artikel selanjutnya doakan saja saya bisa ngasih info lebih mengenai Sebab-Sebab Timbulnya Pikiran Negatif yang lebih spesifik. Ok. Sekian ocehan saya kali ini. Sampai jumpa di artikel saya selanjutnya.. :-)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Label